Bingung bin Jenuh
Kenapa sangat membingungkan ya hidup
ini, seperti mau ke pasar bingung mau membeli apa mau diniah mau belajar agama
yang seperti apa lagi yang mau dipelajari mau kawin masih belum bisa mancari
uang dan tidak punya calon istri.
Seperti orang keluar dari kost
bingung mau kemana keluar dari gang bingung mau kemana mau ke kiri mau ke kanan ke kampus bingung mau
ngapain juga ke kampus mau ke perpustakaan bingung buku apa yang akan dibaca
mau masuk ke kelas bingung mau belajar apa mau pulang takut di marahin orang
tua.
Mau mengajar seperti guru or dosen bingung haruskah memakai
uang atau pakai hati kalau kalau kita mengajar, memakai hati nurani nanti
gajinya sedikit buat rokok dan ngopi saja tidak cukup mau jadi buruh bingung karena kerjanya
sangatlah berat dan membutuhkan tulang yang doble mau memelihara sapi, kambing,
dan ayam bingung modal dari mana yang akan aku dapatkan mau jadi pengangguran
tambah bingung lagi karna akan banyak celotehan yang kurang enak didengar oleh
telinga yang akan aku dapatkan.
Oh Tuhanku hambamu ini
bingung bin jenuh hidup di Negara seperti ini, punya SDA yang melimpah ruah
akan tetapi yang menikmatinya bukanlah bangsa dari kita melainkan bangsa yang berasal dari luar negeri dan orang-orang berdasi saja yang bisa
menikmati kekayaan alam indonesia ini tapi kita sebagai rakyat kecil Cuma bisa
menggigit jari dan menikmati rusaknya alam indah kita, tatanan alam yang bagus
nan indah sekarang tinggal kenangan dan cerita rakyat saja, katanya kita
bertanah air satu kenapa kita air saja masih kesulitan untuk
mendapatkannya dan harus membayar untuk
memperolehnya dan katanya bertanah satu tanah indonesia, mana? Tanah yang luas
banyak menggusur rakyat yang kecil yang mendiami di atasnya.
Kebudayaan seperti apa yang bisa diterima pemuda pemudi
dengan hati yang lapang, kenapa negri kita membingungkan kebudayaan yang ada
masih belum sepenuhnya dilestarikan dan diturunkan kepada anak cucu melainkan
budaya asing yang kita ambil dengan sepenuh hati, pakain adat yang sopan seakan
akan dimarginalkan pakain yang membuka aurat dan membentuk bagian baian yang
sensitive yang kita terima dan bangga ketika kita menggunakannya. Mau keluar malam mingguan sendirian tambah bingung
karna iri melihat pemuda memudi yang ada dengan pasangannya dengan asyik hang out or sedang jalan-jalan di keramaian
kota ini mau meniru seperti mereka tambah bingung lagi karena tuhan tidak membolehkan kita seperti itu trus
kalau jalan sendirian di keramaian kota yang penuh dengan gemerlap cahaya serasa
kurang afdol binti seru.
Makanan khas, kita sebagai penghuni negri ini seakan akan
tiada peduli kelestarian makanan khas kita, entah kemana perginya makanan khas
itu apa mungkin yang menghilang makanannya atau yang menjual ya yang menghilang
akan tetapi makanan yang kurang sehat dan
banyak mudhorot bagi tubuh yang dipilih dan dilestarikan keberadaanya.
Makan dengan pasangan kemudian memilih
warung yang menjual makanan khas negri ini seakan akan kurang waaaaaah bagi
kalangan pemuda pemudi.
Trus kita sebagai penerus darah pejuang harus bagaimana? Mau
melestarikan yang ada malah yang ada yang harus tiada mau membela agama dengan
baik dan benar nanti takut dikatakan preman berkopyah mau membangkitkan darah
juang pemuda pemudi tetapi pemuda pemudianya diam seribu kata seakan akan tidak
terjadi apa-apa di negara kita dan tidak peduli keberadaan yang ada dan
mengadakan yang tiada. Haruskah kita mengadukan problema yang seperti ini
kepada soekarno untuk mendongkrak kembali semangat dan tujuan kita untuk
membangun kembali bangsa ini.
Akan tetapi saya Mau belajar organisasi baik dan benar malah
tambah membingungkan, bingung mengambil contoh pemimpin dan jajarannya yang
seperti apa yang harus ditiru oleh pemuda pemudi khususnya di indonesia ini,
ada contoh pemimpin yang baik tetapi
banyak jajaranya yang tidak sepakat terhadapnya trus pemimpin dan
jajarannya yang seperti apa yang bisa berjalan den visi dan misi satu
mensejahterakan bangsa dan membuat negara kita terbebas dari segalanya.
Kemudian, ditengok pula para politisi dan pejabat
“bertengkar” bingung memilih yang benar. Kalau dulu orang berusaha membenarkan
yang benar, menyalahkan yang salah dan meluruskan yang kurang benar, tetapi
kini bertolak belakang dari dulu, membenarkan yang keliru mengelirukan yang
benar dan membengkokkan yang sudah bengkok sehingga yang keliru mengharu biru,
lalu hilang rasa percaya, muncul dan semakin merajalela rasa curiga.
Ea begitulah nasib orang-orang yang bingung bin jenuh dan semoga
kita tersesat di jalan yang benar menurut Tuhan dan bangsa kita.... amin

Tidak ada komentar:
Posting Komentar